Tertulis di ruang maya ini—berbagai kisah yang tak selalu mampu aku jelaskan. Ada hal-hal yang terlalu rumit untuk diceritakan secara langsung. Ada perasaan yang sulit diterjemahkan menjadi percakapan. Ada kenangan yang mungkin hanya bisa dipahami oleh diriku sendiri.
Maka aku menulis.
Bukan karena hidupku luar biasa. Justru karena hidup ini begitu biasa—dengan segala suka dan dukanya.
Ada hari-hari ketika aku merasa kuat. Ada pula saat-saat ketika aku hanya ingin berhenti sejenak, menarik napas, lalu bertanya kepada diri sendiri: sejauh ini, sebenarnya untuk apa semua yang telah aku jalani?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mungkin tidak selalu memiliki jawaban.
Tetapi perjalanan hidup memang tidak selalu tentang menemukan jawaban. Kadang, ia hanya tentang terus melangkah meskipun kita belum sepenuhnya memahami ke mana langkah itu membawa kita.
Tentang Waktu
Semakin bertambah usia, semakin aku menyadari bahwa waktu bukan sesuatu yang bisa kita miliki.
Ia hanya dipinjamkan.
Dulu aku sering berpikir bahwa masih ada banyak waktu. Banyak hal yang bisa dilakukan nanti. Banyak kesempatan yang bisa ditunda. Banyak kata yang bisa diucapkan suatu hari.
Ternyata, “nanti” tidak selalu datang.
Orang-orang berubah. Anak-anak tumbuh. Orang tua menua. Teman-teman mengambil jalan masing-masing. Dan tanpa kita sadari, beberapa hal yang dahulu terasa begitu dekat perlahan menjadi kenangan.
Barangkali itulah sebabnya aku mulai lebih menghargai sebuah percakapan sederhana, secangkir kopi, perjalanan pulang, sebuah pesan singkat, atau sekadar duduk bersama orang-orang yang kita cintai.
Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, ternyata bisa menjadi sesuatu yang paling kita rindukan.
Tentang Keluarga
Di antara semua perjalanan yang pernah aku tempuh, keluarga adalah bagian yang paling sulit kutuliskan.
Bukan karena tidak ada cerita.
Justru karena terlalu banyak.
Ada cinta yang tidak selalu diucapkan. Ada pengorbanan yang tidak pernah dihitung. Ada kekhawatiran yang disembunyikan agar orang lain tetap merasa tenang.
Sebagai seorang ayah, aku mungkin tidak selalu tahu apakah langkah yang kuambil sudah benar.
Aku juga tidak selalu menjadi orang tua yang sempurna.
Tetapi aku selalu berharap, setiap keputusan yang pernah kuambil pada akhirnya membawa keluargaku menuju kehidupan yang lebih baik.
Dan ketika melihat anak-anak tumbuh, menyelesaikan perjalanan mereka, dan mulai menempuh jalan hidupnya sendiri, aku mulai memahami satu hal:
Tugas orang tua bukan membuat anak-anak selamanya berjalan di belakang kita. Tugas kita adalah mempersiapkan mereka agar suatu hari mampu berjalan sendiri.
Tentang Perjalanan
Aku pernah mengejar banyak hal.
Pekerjaan. Penghasilan. Pencapaian. Pengakuan. Kesuksesan.
Sebagian berhasil. Sebagian tidak.
Ada rencana yang berjalan sesuai harapan. Ada pula yang berhenti di tengah jalan tanpa pernah benar-benar kita mengerti mengapa.
Dulu kegagalan terasa seperti akhir.
Sekarang aku melihatnya sedikit berbeda.
Mungkin kegagalan bukan selalu tanda bahwa kita salah jalan.
Kadang ia hanya cara kehidupan mengajarkan bahwa ada jalan lain yang harus kita tempuh.
Karena itu, tulisan-tulisan di sini tidak hanya berisi keberhasilan.
Aku ingin menyimpan kegagalan juga.
Sebab hidup yang hanya berisi cerita tentang keberhasilan adalah cerita yang tidak lengkap.
Tentang Luka
Ada luka yang sembuh karena waktu.
Ada luka yang sembuh karena kita belajar menerima.
Dan ada luka yang mungkin tidak pernah benar-benar sembuh, tetapi akhirnya kita belajar hidup berdampingan dengannya.
Aku tidak ingin menyembunyikan semuanya.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Bukan pula untuk mencari pembenaran.
Aku hanya ingin jujur bahwa di balik seseorang yang terlihat baik-baik saja, selalu ada perjalanan yang tidak terlihat.
Mungkin karena itu pula kita sebaiknya lebih berhati-hati dalam menilai kehidupan orang lain.
Kita hanya melihat halaman yang terbuka.
Kita tidak pernah tahu seluruh isi bukunya.
Tentang Syukur
Semakin panjang perjalanan, semakin aku menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang besar.
Kadang ia hadir dalam bentuk keluarga yang masih berkumpul.
Dalam tubuh yang masih diberi kesempatan untuk bergerak.
Dalam pekerjaan yang masih bisa dilakukan.
Dalam teman yang masih mau mendengarkan.
Dalam rumah yang masih menjadi tempat untuk pulang.
Dalam kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Dan dalam pagi berikutnya yang masih memberi kita kesempatan untuk mencoba lagi.
Mungkin pada akhirnya, dewasa adalah tentang belajar melihat begitu banyak hal yang dahulu kita anggap biasa sebagai sesuatu yang patut disyukuri.
Mengapa Aku Menulis?
Aku menulis bukan karena merasa memiliki semua jawaban.
Sebaliknya, mungkin aku menulis karena masih terlalu banyak pertanyaan.
Tulisan adalah caraku berbicara kepada diri sendiri.
Kadang aku menulis untuk mengingat.
Kadang untuk melepaskan.
Kadang untuk memahami apa yang sebenarnya sedang kurasakan.
Dan mungkin, suatu hari nanti, tulisan-tulisan ini akan dibaca kembali oleh seseorang yang ingin mengenal siapa diriku.
Jika itu terjadi, aku berharap mereka tidak hanya menemukan nama, foto, atau tanggal.
Aku berharap mereka menemukan manusia di balik semuanya.
Seseorang yang pernah bermimpi.
Pernah takut.
Pernah salah.
Pernah kehilangan.
Pernah mencintai.
Pernah kecewa.
Pernah berjuang.
Dan meskipun berkali-kali lelah, memilih untuk tetap melangkah.
Sebuah Jejak
Aku tidak tahu berapa banyak lagi halaman yang akan kutulis.
Mungkin masih banyak.
Mungkin tidak sebanyak yang kubayangkan.
Tetapi selama masih ada kesempatan, aku ingin terus menuliskannya.
Bukan untuk meninggalkan kesan bahwa hidupku sempurna.
Justru sebaliknya.
Aku ingin meninggalkan jejak bahwa aku pernah menjalani kehidupan ini dengan segala keterbatasannya.
Bahwa aku pernah berada di sini.
Pernah mencintai orang-orang tertentu.
Pernah memiliki mimpi.
Pernah melakukan kesalahan.
Pernah berusaha memperbaiki diri.
Dan pernah bersyukur atas begitu banyak hal yang mungkin tidak sempat kusampaikan dengan kata-kata.
Barangkali suatu hari nanti, ketika aku sudah tidak lagi berada di sini, seseorang akan membuka halaman-halaman ini.
Mereka mungkin akan tersenyum.
Mungkin juga terdiam.
Atau mungkin tidak merasakan apa-apa.
Tidak masalah.
Karena tulisan ini sejak awal bukan tentang bagaimana orang lain mengingatku.
Tulisan ini adalah tentang bagaimana aku ingin mengingat perjalanan hidupku sendiri.
Inilah kisah hidupku.
Tidak sempurna.
Tidak selalu indah.
Tidak selalu mudah dijelaskan.
Tetapi nyata.
Dan setiap kata di dalamnya adalah bagian dari perjalanan yang pernah kulalui.
Jika hidup adalah sebuah perjalanan, maka tulisan-tulisan ini adalah jejak kakiku.
Dan selama masih ada waktu untuk melangkah, aku akan terus menulis.



