Ku tuliskan kenangan tentang
Caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah
Berikan hatiku padamu
Kutipan bait lagu Virgoun yang berjudul Surat Cinta Untuk Starla di atas selalu berhasil mengembalikan ingatanku pada satu momen.
Ada sebuah kutipan lama yang bilang bahwa:
Cinta tidak pernah datang terlambat; ia selalu datang tepat waktu dengan caranya yang paling tidak terduga.
Bagiku, cara tidak terduga itu berwujud sebuah jendela kamar kontrakan temanku yang berdebu dan sebuah angkutan umum yang padat sepulang kerja. Ini bukan cerita tentang romansa megah dengan pelukan di bawah rintik hujan Paris atau makan malam mewah di gedung pencakar langit.
Ini adalah cerita kita—tentang dua manusia biasa yang menemukan jalan pulang di tengah kesibukan kota.
Pandangan Pertama dari Balik Jendela
Sore itu sebenarnya tidak ada yang istimewa. Aku sedang bertamu di salah satu kamar kontrakan yang dijadikan tempat usaha rental komputer oleh teman-temanku. Kami mengobrol acak tentang tenggat waktu pekerjaan yang mencekik leher. Di tengah obrolan, pandanganku terlempar ke luar jendela yang menghadap langsung ke lorong kecil di samping kamar.
Saat itulah dia lewat.
Dia berjalan santai dengan gaya rambut pendek, kemeja kotak-kotak kecil berwarna cokelat dengan lengan baju digulung, dan sepatu bot kulit. Tidak ada efek slow-motion seperti di film-film. Namun, entah bagaimana, sore yang gerah dan bising itu tiba-tiba terasa sedikit lebih teduh.
“Itu siapa?” tanyaku pada Freddy, temanku.
Jawaban singkatnya hari itu hanya melahirkan sebuah nama, dan rasa penasaran yang aku simpan sendiri.
Beberapa hari setelahnya, temanku sempat memperkenalkan kami secara singkat dalam sebuah pertemuan yang canggung. Kami hanya bertukar nama dan senyum formal. Aku pikir, cerita ini sudah selesai di sana. Kami kembali menjadi dua orang asing yang melanjutkan hidup masing-masing.
Takdir yang Menyapa di Tengah Penumpang
Sampai akhirnya, sore menjelang senja yang melelahkan itu datang. Aku naik ke dalam angkot yang berhenti di persimpangan jalan sepulang dari tempat rental temanku. Kepalaku sudah terasa berat, bahuku turun karena lelah, dan aroma keringat serta mesin kendaraan memenuhi udara. Saat itu, aku hanya ingin cepat sampai di rumah kontrakan dan tidur.
Tiba-tiba, sebuah suara lirih seorang wanita menyapa dan menepuk pelan saat aku hendak duduk di antara penumpang lain.
Aku menoleh. Di sudut angkot yang sempit itu, dia duduk sambil tersenyum dengan matanya yang berbinar.
Seketika, rasa lelahku menguap begitu saja. Di dalam angkutan umum yang bergetar sepanjang jalan, kami mulai mengobrol. Awalnya terasa kaku, namun perlahan obrolan kami mengalir bebas, mengalahkan bisingnya suara jalanan kota. Kami saling bertukar cerita tentang banyak hal. Untuk pertama kalinya, perjalanan pulang yang biasanya menjemukan berubah menjadi sesuatu yang sangat aku nikmati.
Janji Pulang Bareng dan Ritual di Angkutan Umum
Kebetulan waktu pulang bersama itu perlahan berubah menjadi sebuah rutinitas yang sengaja diciptakan. Aku mulai sering menemuinya di tempat rental VCD tempatnya bekerja. Tujuanku ke sana bukan lagi untuk menanyakan “sedang apa?”, melainkan “pulang jam berapa?”.
Sejak saat itu, pulang kerja bukan lagi fase melelahkan yang ingin aku lewati dengan cepat. Momen itu justru menjadi waktu yang paling aku nanti setiap hari.
Kencan kami berada di dalam angkot setelah pulang kerja. Di dalam ruang sempit itu, kami berbagi cerita tentang atasan yang menyebalkan, obrolan seputar teman-teman, hingga lelucon-lelucon receh demi membunuh waktu. Di sana, kami belajar menemukan kenyamanan di dalam tempat yang paling tidak nyaman.
Bersambung…

